Sunday, March 8, 2015

Mixed Up I

Its been so many weeks since my last post.
I have been through a lot of changes in my life.

I moved to Jakarta, temporary, for I don't know how many months but I have been in town for three months.
I am staying at The Capital SCBD. Quite near to my office at IDX building. To be honest, I was not ready to work in Jakarta. Not that I mention to the traffic 'coz I just simply walk to the office but my life. I miss my KL life. Jakarta is just simply cruel. I don't like it. My parents are happy with me being in town so they can easily approach me for quick brunch or something.
Oh God, time flies so fast. If I could paused it, that would be awesome.

Anyway, how are you guys ? I miss writing, taking a photo and Sansan.
Wait a minute, Sansan ? Gak pernah terbesit sepersekian detik pun kalau Sansan bisa mewarnai hari-hari gue yang kelabu ini. But one thing that I know so far, Sansan nyebelin dan cenderung sinis sama gue. Dia typical orang yang sangat kompetitif, gak bisa liat gue lagi nganggur dikit pasti dikasi kerjaan. Padahal status hierarchy gue sama dia itu selevel. He is not my boss nor my supervisor. Pokoknya dia itu exactly the same level with me. But entah kenapa gue juga gak ngerti, dia udah menjelma jadi person in charge of every single thing around my department. Jadi wajar kalau dia banyak kerjaan, wajar kalau dia bisa ngepass kerjaan yang menurut dia itu simple tapi pada kenyataannya pas gue kerjain itu adalah kerjaan yang complex. Oh my god !!

Gue tinggal satu atep sama dia selama gue di Jakarta. Kemana-mana bareng dia. Dari breakfast sampai dinner. Gue muak sama dia yang suka nanyain hal-hal ajaib yang terjadi di Jakarta Raya ini. Misalnya dia tanya kenapa orang nyetopin mobil pribadi bukannya taxi (Bencong !!! Itu joki three in one deh !!!), terus dia nanya yang naik motor itu pada baik suka ngajakin nebeng motornya tapi dia gak pernah mau soalnya rada takut diculik (Itu tukang ojek !), terus dia bilang sate ayam itu pedes (Please kita makan sate padang bukan sate ayam bumbu kacang !) dan lain-lain yang gue sendiri sampai lupa saking banyaknya. 
Sansan sukanya shirtless di rumah. Ini salah satu yang suka bikin gue salah tingkah. Walaupun dia nyebelin, tapi kalau digodain pas lagi gak pake baju kan bikin pusing juga. Suka jadi gak fokus. Gue udah bilang ke dia kalau dirumah jangan gak pake baju karna gue risih liatnya terus dia bilang "yaudah merem aja jadi gak liat gue deh" sambil nyelonong pergi. Gila. Gue bisa gila. Dan bener aja, dia berhasil ngebuat gue tergila-gila.

Hari itu, gue gak masuk kerja karna gue lagi gak enak badan. Gue setress sama kerjaan gue dan ditambah gue musti dealing with him all the time. Jadi gue memutuskan untuk ambil cuti dan memanjakan isi lemari gue dengan barang-barang baru. Gue beli one suits of Hugo Boss yang musti customize soalnya gue kurus. Cape deh … tapi yang penting ada barang baru. Terus gue beli beberapa buku di Aksara dan gue beli sepatu lari di goods dept. Balik ke rumah, gue langsung buka blog. Gue kangen nulis dan gue pun buka blog lama gue. Gua baca satu-satu dari mulai yang draft sampai yang gue publish. Semuanya tentang Pascal. Gue kangen dia. Dimana dia sekarang ? Gue sih yakin dia masih di Aussie but is he okay ? I mean, walaupun gue udah gak sama dia, perasaan was was akan kabar dia selalu menghantui gue. He is part of my life. Gue mulai minum wine yang gue beli, setengah botol wine gak kerasa udah masuk keperedaran darah gue. Gue mulai galau, sedih sambil bengong meratapi nasip percintaan gue yang kerasa cukup mengenaskan. Gue buka folder foto-foto kenangan kita berdua. Gue nangis. Mewek kaya abis motongin bawang merah. Tragis banget. Gue ingusan. Gak berenti nangis. Sial, harusnya gue gak pake minum wine. Harusnya gue udah biasa aja. Harusnya gue udah move on. But actually gue belom sama sekali. Kampungan, gue ngedumel sendiri. Dari rasa sedih itu, sedikit-sedikit gue mulai marah dan jijik sama diri gue sendiri. Kenapa juga harus sedramatis kaya gitu. Gue tutup mata gue dan gue mulai tenang. Gue mencoba untuk tidur. Bener apa kata temen gue, paling enak itu tidur abis nangis. Rasanya pules. Dan gue yang tertidur dengan damainya sampai pada akhirnya gue terbangun dengan sosok Sansan yang ternyata tengah melihat laptop gue. Mau ngilang rasanya. Dia ngomong sambil kaget dan merasa bersalah "is he you boyfriend, are you a ga, mmm sorry I have not intention to look at your laptop. I am sorry". Gue melotot sambil nutup laptop gue. Gue marah besar, "how dare you, its none of your problem!!!" Gue jalan sambil sedikit berlari masuk ke kamar gue.
Goblok !! Itu kata yang pertama keluar dari mulut gue ketika gue berhasil menutup pintu kamar gue dengan cara yang cukup kasar. Sebenernya sih semuanya salah gue yang sampai bisa ketiduran di ruang tamu dengan laptop gue yang masih memamerkan foto-foto gue and Pascal. Tapi kenapa juga Sansan ide banget untuk duduk disebelah gue yang lagi tidur. Tanpa gue sadari. Gue pegang laptop dan selimut yang bukan selimut gue. Ini selimut Sansan. Dia ternyata cuma mau nyelimutin gue pas gue tadi tidur. Duh. Gue jadi gak enak hati. Tapi tetep aja, perlakuan dia itu gak bisa gua maafkan. Dia udah cross the zone. My Gay Zone !!!

Gue keluar kamar sambil bawa selimut Sansan. Gue nggak liat dia di ruang tamu, gue ke dapur pun dia nggak ada, pasti dia udah dikamarnya, so gue buka pintu kamar dia tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu seraya mengucapkan kata-kata yang udah gue pikirkan "ini bukan selimut gue dan entah kenapa ada ditangan gue." Belum habis gue ngomong, mata gue tertuju pada Sansan yang terduduk ditepian kasurnya dengan kedua siku tangannya bertopang pada kedua pahanya yang kekar dan tangannya-tangannya yang sedang menjenggut rambutnya sendiri. Gue yang tadinya marah secara otomatis merasa kasihan melihat dia yang merasa bersalah.

A : It was my fault and Im sorry that you have to know who am i. Yes i am a gay and a guy that you saw on my laptop was my boyfriend.
S : *diam tanpa kata …*

Gue lempar selimut dia dan terus berbalik arah sambil menuju ke kamar gue. Gue mau packing dan gue pengen kabur ke rumah gue. Well, gue berhasil packing maling dan minta dijemput sama sopir gue. Gue pengen balik ke Kemang aja. Gue tau gak semua orang bisa nerima gay. Dan mungkin aja Sansan itu homophobic. Dari pada nantinya jadi awkward mendingan gue yang ngilang. At least mengurangin frekwensi ketemu face to face sama si Sansan.

--------

Gue ketemu Sansan di kantor, di lobby, di smoking area dan dia kaya ngejauhin gue. Gue faham kok, lagian gue juga gak pengen ngomong apa-apa karna gue masih marah. Marah sama dia dan yang lebih ngenes lagi marah sama diri gue sendiri to do such a stupid thing.
I often rolling my eyes kalau gue inget betapa bodoh dan cerobohnya gue. But shit happens and life must go on. Gak bakalan bisa diulang atau dihapus. Jalanin aja. Walaupun pait.

Dihari ke empat gue diem-dieman sama Sansan, dia mulai mencoba approach gue. Gue yang terlahir dengan gelar "binan bitchy yang menjunjung harga diri" cuma jawab seadanya. Gue gak mau dikasihani atau disogok-sogok. Dia minta maaf for what happened and for what he did. Pake bowing lagi ala-ala orang Jepang. Gue takjub, gue kira dia bohongan, tapi pake bowing segala macem berarti ga pake bercanda ni orang. Yaudah gue bilang "santai aja lagi, gue udah biasa kok diginiin. Once people know who am I, either they are gone from my life or felt sorry. But I dont really need those kind of people, I know that I am capable of doing the same things" gue mecoba berdiplomatik seadanya.

Gue nggak mau dikasihani. Bitch, I was born like this and I don't need everybody to felt sorry. I am aware for who am I and what am I. I am just a normal guy who like another guy for instance. If gay was accepted in the society, I would be the same as the normal guy. DUH !! Mikirin yang beginian sih gak bakalan selesai.

Sepekan berlalu, gue udah terbiasa dengan Sansan yang berubah sedikit lebih protektif. Gue nggak tau dia ngerasa bersalah atau gimana, yang jelas gue hargai perlakuan dia itu but still he annoys me sometime. I mean, santai lah, nggak usah dibuat-buat. Once again, gue sadar gue gay dan bukan berarti dengan sekarang lu tau gue gay, lu memperlakukan gue lebih spesial dari yang sebelumnya. I DONT LIKE IT ! FAKE !

--------

Email yang baru masuk ke handphone gue membuyarkan fikiran busuk gue akan perlakukan Sansan yang berlebihan. Gue baca isi email itu. Baju gue udah jadi. BAJU GUE UDAH JADI !! Gila, senengnya minta ampun. Ternyata happy itu simple, haha. Gue geli sendiri. Sampai akhirnya gue rada males karena at the end of the email gue itu ngirim baju ke The Capital instead of ke rumah parents gua yang di Kemang. Duh, gimana cara ngambilnya. Gua kan masi jaul mahal sama si Sansan.

--------

Hari ini gue dikejutkan dengan satu set jas beserta satu box armani shoes disebelah korsi kerja gue. Gue tau jas itu dari Sansan karena gue yang pada akhirnya nggak punya nyali ngambil sendiri dirumah kita. Tapi sepatu ? Gue nggak inget kalau gua juga order sepatu. Lagian armani is not my thing. Diatas box sepatu itu ada sticky note yang bertuliskan "i'm sorry, i really am"
Cong … Apasih maksudnya dia ngasih sepatu sama tulisan kaya begituan. Dikira gue bencong murahan apa yang dibeliin sepatu gituan doang langsung luluh. Dih, dikata dibeliin 7 boxes of shoes like that gue gak segampang itu luluh. Dengan sigapnya gue langsung sms dia yang kira2 berisikan ancaman, nyiyir and sindiran khas mbak-mbak jalur Pantura "gue gak perlu sepatunya, its not even match with the color that i have". Terus dia bales dengan kata-kata datar tapi menyakitkan otak gue, "its okay, i need your report before EOB, both of accounting and finance that we need to send to New York tomorrow". Bitch !!! I hate him even more.

--------

Gue yang ngebut bikin report dengan kecepatan diatas orang normal akhirnya selesai pada jam 11 malem. Sansan bales email gue dengan nada nyiyir "do you know what's the meaning of EOB, don't you?", gue bales yes, its end of business but its not even EOB yet in NY. Point di gue satu.

Gue pulang udah kaya orang abis diperkosa, rambut udah nggak oke, blazzer gue udah kusut, tas gak gue zip full, kabel laptop muncul dari dalem tas gue secara dramatis yang menghasilkan kesan workaholic. Dibawah lobby sana, sesosok makhluk Tuhan yang aduhai gantengnya, dengan masih memakai baju kantor tapi terkesan casual menunggu dengan senyumnya yang merekah. Yang berhasil ngebuat gue luluh lantah. Sansan. Iya dia Sansan. "Good evening Ndro, would you like have something to eat ?" Tanpa ba bi bu gue langsung masuk mobil dan NGOMEL !!!! Dih disangkain bisa gitu aja, gue lempar sepatu yang dia beliin. Pokoknya gue ngamuk. Gua gak mau ngeliat dia. Sejujurnya gue kaya begitu karena salting. Ngapain juga dia pake senyum terus nungguin gue balik. Srigala  berbulu domba, mantan penjajah yang lagi ngejajah gue. Gue kesel, marah, tapi dilain sisi gue ngerasa seneng kalau ternyata dia perhatian sama gue, ya walaupun sedikit perhatian but it is more that enough for me to rescue myself being alone withiut anybody yang merhatiin gue.

Sansan yang duduk disebelah gue cuma bisa garuk-garuk kepala sambil pegangin box sepatu yang gue lampar barusan. "Gue nggak ngerti deh kenapa lu nolak hadiah dari gue …" dengan aksen inggrisnya yang lucu. Gue cuma bilang "i dont accept guilty present from someone that is not my boyfriend or even my type". Entah kenapa gue berani terang-terangan bilang gitu ke Sansan, padahal deep down inside gue suka banget sama Sansan. Hahahaha. Maksudnya suka itu Sansan type hue lah. Oriental dengan badan bagus, pinter, susah ditebak, wangi dan dominant.

--------

Akhirnya, kita makan di PotGar SCBD, one of my fav resto in the neighborhood. Gue makan steak, gue pesen wine, gue pesen wishky gue boros !! Dia cuma bisa geleng-geleng kepala. But, out of no where, gak ada kilat gak ada petir, Sansan nanya emang tipe cowo gue kaya gimana. Dih, gila ya gue sampe hampir keselek ngedenger dia nanya begitu. Seperti biasa, gue cuma ngeliat dia dengan muka gue yang datar terus bilang "seriously, lets not do this". Sansan nggak puas dengan jawaban gue, dengan matanya yang sipit, dia mulai mencari-cari sesosok laki-laki yang I might intrested. "That one, a guys with brown shoes" sambil semangat nunjukin telunjuknya kearah caucasian guy mid 30 yang punya potongan rambut kaya Chistian Ronaldo. Gue jawab, "No" sambil ngelanjutin makana gue. Terus gak selang berapa lama, dia nunjuk sesosok lelaki dengan dengan white polo shirt yang sedang menemani teman perempuannya yang memakai tas channel boy keluaran terbaru dengan silver hardware yang keliatan anggun. Shit !! Gue beneran keselek, gue ngesel nggak mesen air outih karena ketika lu keselek, wine and wishky are not your best friends. Yang lebih ngenesnya lagi, itu sosok lelaki adalah mantan gue, PASCAL !!!

Sansan kebingungan kenapa gue tiba-tiba bertingkah aneh. Gue cuma bisa merem, ngerasain tenggorokan gue yang panas. "easy on your wishky Ndro", Sansan ngomong sambil ngerebut segelas whisky yang udah gue abisin dalam waktu singkat gara-gara gue keselek. Tapi, panasnya tenggorokan gue nggak bisa gue bandingin dengan panasnya hati gue yang secara nggak sengaja ngeliat Pascal lagi, i dont know mungkin ngedate sama pacar barunya. Aaaaahhh life is so unfair. I hate it. Sansan yang rempong sibuk manggil-manggil waitress untuk minta air putih untuk gue yang mukanya udah merah.

Pascal menghampiri. Sambil nepuk bahu gue dan berkata "loh kenapa Ndro, are you okay ?" Dengan nyodorin air putih yang baru aja dateng ke arah mulut gue yang nggak bisa berkata apa-apa. Gue minum ahabis air itu sambil bilang makasih. Gue berdiri balik kanan buabar jalan sambil jalan kearah cashier. Gue keluarin amex gue sambil masih nahan panas dan setelah sukses membuat pembayaran yang gue sesali itu, gue balik ke meja gue yang sekarang udah ada Pascal yang lagi ngobrol sama Sansan seraya berkata, "i'm going home". Tanpa ba bi bu, gue jalan dan setengah berlari keluar. Gue numb, gue gak tau apa yang gue rasain. Gue panas. Gue ngerasa gue abis di smack down. Gue gak worth it. Gue mulai ngebakar rokok gue sambil nangis dibawah pohon. Duh, drama banget hari ini. Gue gak mau supir gue tau gue nangis, nanti dia pasti rebek ngomong ke bokap nyokap gue. Gue suruh supir gue langsung balik ke Kemang, dan gue slowly but sure jalan ke Pasific Place, gue nggak tau gue mau tidur dimana, gue cuma pengen sendiri. Gue check in di Ritz. Tanpa baju ganti, tanpa tas, gue cuma bawa diri aja.

--------

To be continued 

Thursday, January 29, 2015

Leo Si Cina Arab

Gue yang hobi telat masuk kantor sudah menjadi bintang laga dikalangan pemirsa lantai 24.
Gimana enggak mau dikatain bintang laga kalau gue sukanya lari-larian dateng ke cubicle gue dengan tas kebuka setengah, tumbler coffee ditangan kanan, name tag dan kunci mobil ditangan kiri, serta blazer yang masih mengantung dramatis disela-sela tas gue sambil lari-lari ala pelari marathon profesional.

Hari itu gue nggak tau kalau ternyata bakalan ada new team joining dilantai 24. Tempat duduk mereka itu persis didepan pintu masuk dan tempat duduk gue itu disebelah kanan pintu masuk. Dengan tekat bulat untuk tidak telat pada hari itu, gue malah telat. Itu kali ketiga gue telat masuk kantor dalam satu minggu. The new record has been made by me. Gue dobrak pintu kaca depan ruangan gue dan seisi ruangan pula sukses kaget dan perhatian pun tertuju pada kehadiran gue. Yang gue liat suma satu, sesosok lelaki idaman gue beberapa hari belakangan ini. Matanya tertuju pada mata gue. Senyum renyahnya seolah berbicara "selamat siang ?". Gue pun cuma bisa nyengir lebar seraya diiringi tepuk tangan gemuruh dari pemirsa setia.
"Shit, I was over slept and now there are new members joining you guys saw my performance (baca: adegan dobrak pintu)", gue mumbling ketemen sebelah gue. "Lagian sih pake acara dobrak pintu, dramatis banget tau gak kesannya …" Sansan nyeletuk dari balik cubicles sambil ngelongos pergi. Drama !!!!

Gue masih penasaran sama sosok lelaki baru ini. Dari umurnya sih kira-kira nggak jauh dari gue, ya beda 1-3 tahun lah. Berkacamata dengan brewok alami di mukanya berhasil membuat siapa saja yang melihat dia akan tersenyum. Mukanya polos banget. Senyumnya renyah. Matanya teduh tapi tajam. Lengannya pas, bentuknya alami, bukan kaya Pascal atau Arlan yang besar hasil ngegym ditempat mahal. Proposi pantatnya pas. Diselimuti sama celana berbahan chinos yang menawarkan pemandangan indah buat gue. Jarang-jarang gue menemukan sesosok laki-laki dengan sexual appeal yang begitu luar biasa kaya dia. Ya bisa dibilang gue ini orangnya pemilih dan gak pernah berfikiran sejorok ini sebelumnya dengan siapapun. Mungkin perubahan hormon kali ya, hormon sexual gue yang lagi diubun-ubun kepala. First world problem being a single, gak punya siapa-siapa untuk memuaskan hasrat sexual kecuali tangan sendiri. Hihihi. Bodo ah, prinsip gue adalah gak boleh sleeping around kaya homo murahan *no offense* yang sukanya nongkrong di gym kelas kakap, tapi gak angkat-angkat beban melainkan diem didalem sauna berharap dapet segenggam daging untuk bisa dinikmati. Ewwhh gross. Ya gue biasa nyebut mereka itu dengan nama dipers a.k.a dick predators. Hahaha gue pernah punya pengalaman buruk dengan dipers ini. Gue masuk sauna duluan, gak lama sesosok binan berbadan really hunky tapi alis ngalahin Krisdayanti masuk duduk disebrang gue. Mukanya sumpah jutek banget. Kaya gak seneng sama kehadiran gue disitu but bitch please you don't own this sauna so you better to fix your face expression before my nails scratch your face. Hihi maklumin ya binan single gak bisa diajak ribut dikit langsung mau cat fight aja bawaannya. But then, another lelaki berumur sekitar 35 tahunan yang memiliki ras barat masuk dengan hanya menggunakan celana gymnya tanpa handuk. Badannya bagus, bulu-bulunya menggoda iman, mukanya ganteng, rambutnya khas classic wet slick back dengan ekspresi muka yang ramah. Sesosok bule ini mampu mencairkan muka jutek sang binan dan merubahnya jadi binan centil yang haus akan perhatian. Tapi sang bule justru malah ngajakin gue ngobrol dengan nanyain dimana gue mendapatkan nike fuel bracelet yang gue pake pada saat itu. Ya gue bilang aja order dari Amrik as at that time emang belom keluar di Asia. Setelah lima belas menit berlalu, gue keluar dari sauna untuk mendinginkan badan. Gak lama sang bule pun keluar sambil sedikit lari kearah shower dan cepet-cepet ngilang kearah locker room. I am wondering why but who cares. Gue masuk lagi ke dalem sauna dan gua melihat tuh binan lagi benerin handuknya. Raut muka wajah si dipers mulai ditekuk asem lagi. Eh gila ye, emang dasar predator. Gue yang keabisan sabar mulai angkat bicara. "Do you mind ?", sambil nunjuk muka gue yang udah pasang muka songong. Si dipers angkat alis satu oktaf. Gue makin kesel, "yes, do you mind your attitude, this sauna is for share ...". Dia jawab, "what is your problem ?". Gue yang kesel bin gahar langsung ketus bilang, "your face expression is my problem, I smell fishy on your face. So you better fix your attitude or I will kick your face with my barefoot." Dia diem terus keluar sauna sambil ngomel-ngomel nggak jelas. Hahaha percaya nggak percaya gue bisa ngomong kaya gitu tapi ya at least berhasil bikin itu binan gak jelas cabut dari waktu saunaan gue.

Back to topic.

Ya, lambat laun. Seiring dengan berjalannya waktu, gue mulai mengenal sosok lelaki pujaan hati gue ini.
Namanya Kamal, anak pertama dari tiga bersaudara. Besar di Kuala Lumpur dan mengeyam pendidikan di Inggris. Udah punya pacar seorang perempuan cantik keturunan eropa cina yang bekerja sebagai pramugari maskapai penerbangan ternama dunia. DAN GUE PATAH HATI !!!

Saturday, October 18, 2014

It Comes Twice

Do you believe in love at the first sight comes twice ? I do believe on it.

August through September workloads were instantly insane. I have to do the mid year reports, auditing and meeting almost in every week. Jetting to Singapore, Jakarta and Philippine. Got the chance to meet very successful men in their very early age. Handsome and confident. Nice hair, high end fashion suits, expensive perfume, global minded and happily MARRIED !
Eh tunggu, beneran married apa gimana sih ? Iya, mereka rata-rata udah punya anak dua. Ih cemburu banget gak sih sama istri-istri mereka ? Hahaha, hush, ngaur banget ini otak.
Well, ketika semuanya selesai, gue dihadapkan dengan realita yang sebenarnya. Gue adalah cong yang kembali single. Kembali ke pasaran yang kejamnya minta ampun. Kembali iseng download app yang gak penting. Kembali mengarungi kehidupan yang gue sendiri nggak tau apa itu.

Living in Malaysia never been so hard like this. Sure, after Pascal and I broke up, Arlan and I broke up, I just can't live a life like this. I deserve something nice. So I decided to have some "me" time doing retail therapy. Jujur, udah lama banget gue nggak belanja. Beberapa bulan sebelum gue putus sama Pascal, gue lebih memilih untuk beli perabot rumah dari pada beli baju dan selama gue pacaran sama Arlan pun sama, gue lebih milih untuk belanja alat-alat rumah tangga dibandingkan ngisi lemari gue sendiri with something good.

Gue dari siang udah muter-muter Star Hill. Keluar masuk Kenzo, nyoba ini itu di Leo, beli kaos di McQueen, cuss ke Pavilion buat nyari all fresh Nudie Jeans. Pokoknya gue menghadiahi diri sendiri like today is my birthday. Okay, Gue tau ini out of my limit but I deserves it.

Keesokan pagi harinya. Ketika entah apa yang sedang terjadi di jalanan ibu kota Malaysia ini, gue dihadapkan dengan kemacetan yang bikin gue geleng-geleng kepala. Monday, everyone seems to have the same problem as mine. Gue mencoba untuk mendengarkan musik sembari mulai menyalakan rokok ketiga pagi ini. Kemacetan yang nggak masuk akal itu sukses membuat gue telat masuk kantor. Dengan segala daya dan upaya yang tersisa, gue sukses untuk memarkirkan mobil gue di pelataran parkiran depan kantor. Yes bitch, I pay a good money for the spot !! God, how bless I am. Haha. Dengan kesibukan gue yang melebihi rata-rata, gue nggak sadar kalau ternyata Sansan udah nggak ada di cubiclenya. Kemanakah dia ? Gue mulai bertanya-tanya. I asked few of my fellow mates and they said he is on leave for two weeks. Two fucking weeks without saying a thing to me ? Ya mudah-mudahan aja dia selamet sampai entah dimana tujuan berliburnya. Gue gak kepengen sumpah serapah gue dikabulkan sama Tuhan ketika pertama kalai gue find out dia lagi cuti panjang.

Dan gue yang single ini kemudian menjadi cong yang kuat dengan ngeroko sendirian di basement kantor untuk ngehindari Arlan yang biasanya ngeroko di lobby kantor. Gue bisa ngehabisin dua sampai tiga batang rokok sembari ngelamun. Mikirin kenapa dan apa yang akan terjadi sama gue. Deep down inside gue yakin kalau semuanya akan baik-baik aja, I just have to let it go and just peace with it. Dan seketika itu pula, gue melihat sesosok laki-laki dengan senyum yang mempesona. Kita saling pandang untuk beberapa saat yang sukses ngebuat gue salah tingkan binti mati gaya. I don't know what to do or how to react. He just simple smile at me as he passed by my vision. Dada gue tiba-tiba tersa sesak. Persis apa yang gue rasain ketika gue ngeliat Pascal waktu masa orientasi siswa kampus dulu. Laki-laki straight yang cuek dengan bajunya yang berantakan, rambut pendek hasil potongan salon ala ala, wangi badan yang semeriwing dicampur sama bau badannya, rokok ditangan kanan dan a grande cup of Starbucks ditangan kirinya. He is the one, as I whispered silently. How could be ? I just know it. Love at the first sight do comes twice.

Monday, September 29, 2014

Friends Don't Kiss And Tell

Sudah satu harian ini hujan terus menerus turun membasahi kota yang sudah enam tahun gue tinggali. Semua kenangan manis dan pahit seolah-olah datang tanpa gue sadari.

Begitu manisnya sampai-sampai terasa sangat sakit untuk dikenangnya.
Duduk manis sembari menikmati kopi hitam panas buatan Mbak Marni seakan menambah suasana sentimental yang ada. Gue merasakan hal yang berbeda ketika salah satu kenangan masa kuliah dulu masuk kedalam otak dan membuat gue bersemangat lagi untuk menulis.

Ya, gue pindah dari alamat blog lama yang sudah beberapa tahun belakangan ini gue jadiin tempat nulis. Rasanya berat. Telalu banyak kenangan manis dalam blog itu. Tapi gue bersemangat untuk buat lebih banyak kenangan-kenangan manis dalam alamat blog baru gue ini.

Gue putus sama Arlan.
Kayanya gue emang gak jodoh sama westerner deh. Banyak banget perjuangan yang gue yakin itu akan sia-sia karena dari adatnya aja sudah berbeda. Walaupun gue besar di Negri Paman Sam tapi gue masih punya norma adat ketimuran yang sangat kental. I do not absorb everything from them. I filtered it and try to apply it into eastern way.

Over the years, people are always talking about gossips.
And over a bottle of wine, it goes slowly but sure all the gossips are about to revealed.
Yesterday I had so much fun with my Indos friends. It was such a beautiful quality time. We may not able to talk every day nor see one of each other but when it comes to gathering, trust me, its worth every second.
One of my friend is now pregnant with some wealthy Caucasian expatriate whose staying up on some pent house in the golden triangle of Kuala Lumpur, another friend came with his new gay partner which is so talented in fashion industry, some friend just broke up with her boyfriend whose still studying his master in London and one of my very best friend came with the news that she is finally a lesbian.

What a news right ? I know. Gue pun sampe bengong ngedengerin mereka cerita ini itu. I don't care about their condition or about background. All I know is I love them as much as I love my family. I know I don't talk about them as much I talk about my love life, but seeing them happy yesterday makes me want to write something about friendship.

Gue sebenernya gak terlalu susah untuk dapetin temen. Gue anaknya supel dan gak neko-neko. Gue gak milih-milih temen. Dan gue percaya kalau pertemanan itu adalah sebuah hukum rimba. Siapa yang kalah dia yang keluar. Sounds silly right ? But I have to admit the cliche, kalau lu bisa menangin hati orang, lu bakalan bisa berteman dengan apa adanya. Tapi kalau lu malah kalahin hati orang, just don't bother to sit with them or even breath in the same location, it would be really painful.

I still could remember when all of us went to Macau to try our luck in gambling. Hahaha one of my favorite vacation. Some of us end up out of money, some of us end up in love and some of us end up with really good bags and shoes (Read : Shopping).
Another trip with them is when we were having so much pressure of the final exam. Right after the last subject was done, we decided to go to Maldives for 2 weeks and we were end up flashing our parents card up to the limit. We were grounded to not having our card back for 2 months. LOL. But who cares ? We had fun and our grade never been below three point four.

Are they acknowledge about your gay life ? Nope, they have no idea about me being gay. As I told you, no one know everything about me. Yes, they might know about my family life, where I grew up, what I like to do or don't like to do, what is my favorite number, what is my zodiac, where I live but about me being a gay ? They are sure have no idea.
The reason why I keep it secretly (Obviously you know that I am a gay, LOL) is I am not comfortable of it. Not that I am not proud of myself but people sometime just shit. I don't want to be judge and I am sure they wont do such thing like that but as long as I can, I will play the character smoothly 'till one day, one perfect day, I will tell them about who I really am.

Friends don't kiss and tell. But I will kiss and tell them that I have so bless to have them in my life.